Solutions About Why Flexicore Blog Book a demo

Perlu Nggak Sih Punya Website Kalau Sudah Jualan di Marketplace?

Kalau kita sudah membayar untuk mendatangkan traffic, ke mana customer tersebut kita arahkan?

Website memberikan alternatif untuk membawa customer terlebih dahulu ke dalam ekosistem brand

“Kan sudah ada Shopee.”

“Customer juga sudah biasa belanja di marketplace.”

“Kalau bikin website sendiri, nanti siapa yang datang?”

Pertanyaan seperti ini cukup masuk akal.

Untuk bisnis yang baru mulai berjualan online, marketplace memang memberikan banyak kemudahan. Customer sudah tersedia, sistem pembayaran sudah ada, promosi bisa dilakukan di dalam platform, dan berbagai kebutuhan operasional sudah tersedia.

Jadi, apakah bisnis tetap perlu punya website sendiri?

Jawabannya: tidak selalu.

Tetapi ketika bisnis mulai berkembang, ada satu hal yang perlu dipikirkan:

Kalau kita sudah mengeluarkan biaya untuk mendatangkan customer, ke mana customer tersebut kita arahkan?

Dari Ads ke Mana?

Misalnya sebuah brand mengeluarkan budget untuk Instagram Ads, TikTok Ads, atau Google Ads.

Customer melihat iklan dan tertarik dengan produk.

Ada beberapa kemungkinan tujuan setelah mereka mengklik iklan tersebut:

Ads → Marketplace

Ads → Website → WhatsApp

Ads → Website → Checkout

Ads → Website → Marketplace

Semua pilihan tersebut bisa benar.

Yang menjadi pertanyaan adalah: siapa yang mengontrol customer journey setelah iklan diklik?

Jika langsung diarahkan ke marketplace, customer masuk ke lingkungan marketplace.

Mereka melihat produk kita, tetapi di halaman yang sama mereka juga dapat melihat produk kompetitor, harga seller lain, rekomendasi produk lain, promo marketplace, dan berbagai elemen yang berada di luar kendali brand.

Transaksi mungkin tetap terjadi.

Tetapi customer journey tersebut sebagian besar terjadi di platform marketplace.

---

Website Sebagai Control Point

Di sinilah website sendiri mulai memiliki nilai.

Website tidak harus menjadi tempat semua transaksi dilakukan.

Justru website bisa menjadi titik tengah antara traffic dan berbagai channel penjualan.

Customer yang datang dari Ads dapat masuk terlebih dahulu ke website brand.

Di sana mereka mendapatkan informasi yang memang ingin kita sampaikan:

  • Siapa brand tersebut
  • Apa produk yang dijual
  • Apa keunggulannya
  • Bagaimana cara menggunakan produk
  • Produk mana yang cocok
  • Testimoni atau informasi pendukung
  • Cara melakukan pembelian

Setelah itu, customer bisa memilih jalur transaksi.

Customer yang nyaman menggunakan marketplace bisa diarahkan ke marketplace.

Customer yang ingin bertanya bisa diarahkan ke WhatsApp.

Customer yang ingin langsung membeli bisa melakukan checkout di website.

Jadi satu traffic source tidak harus memiliki satu tujuan transaksi.

Ads → Website → WhatsApp / Website Checkout / Marketplace

Yang berubah adalah: brand memiliki kesempatan untuk mengelola pengalaman sebelum customer memilih channel transaksi.

---

Lalu Apa Untungnya?

Bayangkan dua skenario.

Skenario pertama: Ads → Marketplace

Customer melihat iklan sebuah brand dan langsung masuk ke marketplace.

Di sana customer menemukan produk brand tersebut.

Tetapi di saat yang sama, customer juga melihat berbagai produk lain.

Marketplace memang mendapatkan transaksi dari seller tersebut, tetapi marketplace juga mendapatkan sesuatu yang sangat penting: traffic dan engagement di dalam platformnya sendiri.

Customer tetap berada di ekosistem marketplace.

Untuk seller, ini tetap bisa sangat menguntungkan karena marketplace memang memiliki traffic dan conversion yang kuat.

Tetapi ketergantungannya juga menjadi lebih besar.

Skenario kedua: Ads → Website

Customer melihat iklan dan masuk ke website brand.

Sebelum membeli, customer mengenal brand tersebut terlebih dahulu.

Mereka melihat produk, membaca informasi, mengenal positioning brand, dan kemudian memilih bagaimana mereka ingin membeli.

Mereka bisa membeli melalui website.

Bisa melalui WhatsApp.

Bisa juga diarahkan ke marketplace jika memang itu pilihan terbaik.

Dalam skenario ini, brand memiliki lebih banyak kontrol terhadap customer journey.

---

Branding Menjadi Lebih Penting

Ada alasan lain mengapa website tetap relevan meskipun transaksi akhirnya terjadi di marketplace.

Branding.

Marketplace pada dasarnya dirancang untuk membantu customer berbelanja.

Customer membandingkan produk berdasarkan harga, rating, review, promo, ongkir, dan berbagai faktor lainnya.

Ini sangat bagus untuk conversion.

Tetapi untuk membangun brand, ruangnya lebih terbatas.

Website memberikan kesempatan untuk memperkenalkan brand dengan cara yang lebih konsisten.

Mulai dari visual, tone of voice, cerita brand, product photography, edukasi, hingga cara sebuah produk diposisikan.

Hal ini semakin penting ketika bisnis menjual produk yang memiliki diferensiasi.

Karena kita tidak ingin customer hanya mengingat:

“Produk yang kemarin saya beli di marketplace.”

Kita ingin mereka mengingat:

“Oh, ini brand X.”

Dan ketika customer sudah mengingat brand, kemungkinan untuk kembali membeli melalui berbagai channel menjadi lebih besar.

---

Website Tidak Harus Menjadi Tempat Checkout

Ini juga penting.

Banyak bisnis menunda membuat website karena berpikir:

“Kalau website tidak menjadi tempat transaksi, buat apa?”

Padahal fungsi website bisa jauh lebih luas.

Website bisa menjadi brand hub dan conversion point.

Customer datang dari Ads, social media, search, QR code, referral, atau bahkan marketplace.

Kemudian website memberikan informasi yang dibutuhkan sebelum customer menentukan channel pembelian.

Untuk satu produk, mungkin customer diarahkan ke WhatsApp.

Untuk produk lain, customer langsung checkout di website.

Untuk campaign tertentu, marketplace mungkin menjadi pilihan karena sedang memiliki promo atau mekanisme pembayaran tertentu.

Website tidak harus menggantikan marketplace.

Website memberikan pilihan.

---

Dan Bagaimana dengan Data?

Di sinilah konsep owned channel menjadi semakin menarik.

Ketika customer berinteraksi melalui website sendiri, bisnis memiliki kesempatan untuk membangun first-party customer data sendiri, tentunya dengan pengumpulan dan penggunaan data yang transparan serta sesuai consent dan aturan privasi yang berlaku.

Misalnya:

  • Customer profile
  • Riwayat pembelian
  • Produk yang diminati
  • Sumber campaign
  • Riwayat interaksi
  • Preferensi customer
  • Data yang diperlukan untuk fulfillment

Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk memahami customer dan membangun hubungan jangka panjang.

Tetapi lagi-lagi, ini bukan berarti semua data dari WhatsApp atau marketplace otomatis menjadi milik brand.

Konsep yang lebih tepat adalah:

Bangun sebanyak mungkin hubungan dan data first-party di channel yang dapat Anda kontrol sendiri.

---

Website Tidak Harus Mahal

Website juga tidak harus langsung menjadi ecommerce platform yang kompleks.

Bisnis dapat memulai dari landing page sederhana yang berisi brand, produk, informasi penting, dan tombol pembelian.

Kemudian berkembang menjadi website dengan katalog.

Setelah kebutuhan meningkat, bisa ditambahkan checkout dan payment.

Kemudian dihubungkan dengan WhatsApp Commerce, inventory, warehouse, dan logistics.

Pendekatan bertahap seperti ini membuat bisnis tidak perlu mengeluarkan investasi besar sejak awal.

Yang penting bukan seberapa banyak fitur yang dimiliki website.

Yang penting adalah website tersebut memiliki fungsi yang jelas dalam customer journey.

---

Di Mana Peran FlexiCore?

Di FlexiCore, kami melihat website bukan sebagai pengganti marketplace.

Kami melihatnya sebagai salah satu bagian dari commerce ecosystem.

Untuk bisnis yang belum memiliki website, FlexiCore dapat membantu membangun website atau landing page dengan biaya yang efisien.

Website tersebut kemudian dapat digunakan sebagai destination dari berbagai sumber traffic, termasuk Ads.

Dari website, customer dapat diarahkan sesuai kebutuhan bisnis:

WhatsApp Commerce, website checkout, maupun marketplace.

Di belakangnya, FlexiCore dapat membantu menghubungkan proses commerce tersebut dengan order management, inventory, warehouse, dan logistics.

Artinya, bisnis tidak harus memilih satu channel saja.

Ads bisa digunakan untuk mendatangkan traffic.

Website menjadi tempat brand memperkenalkan diri dan mengelola customer journey.

WhatsApp dapat digunakan untuk komunikasi dan commerce.

Marketplace tetap digunakan sebagai salah satu channel transaksi.

Dan FlexiCore membantu menghubungkan order tersebut dengan proses operasional dan logistics.

---

Jadi, Perlu Website atau Tidak?

Kalau bisnis baru mulai, mungkin jawabannya belum.

Marketplace bisa menjadi channel yang sangat baik untuk mendapatkan customer pertama.

Tetapi ketika bisnis mulai mengeluarkan budget yang lebih besar untuk Ads, membangun brand, dan mendapatkan customer secara mandiri, pertanyaan yang lebih relevan adalah:

Apakah semua traffic yang kita bayar harus langsung diberikan kepada marketplace?

Belum tentu.

Website memberikan alternatif untuk membawa customer terlebih dahulu ke dalam ekosistem brand.

Dari sana, customer bisa memilih bagaimana mereka ingin membeli.

Marketplace untuk discovery dan transaksi.

Website untuk brand dan owned channel.

WhatsApp untuk customer relationship dan commerce.

FlexiCore untuk menghubungkan commerce dengan inventory, warehouse, dan logistics.

Karena ketika bisnis sudah membayar untuk mendapatkan traffic, mungkin yang perlu dipikirkan bukan hanya:

“Berapa banyak orang yang klik?”

Tetapi juga:

“Setelah mereka klik, siapa yang memiliki hubungan dengan customer tersebut?”

Itulah alasan website tetap relevan, bahkan ketika bisnis sudah sangat aktif berjualan di marketplace.

#digitalcommerce#ecommerce#ownedchannel#digitalmarketing#brandbuilding#customerexperience#whatsappcommerce#marketplace#ecommercestrategy#logistics
N
Nurlela
Content Writer, Flexicore

Tim konten Flexicore menulis tentang operasional gudang, marketplace, logistik, dan teknologi pendukung bisnis di Indonesia.

See it on your operation

Curious what Flexicore looks like in your operation?

Drop us an email and tell us what you're running. We'll get back to you with the right fit.

Link copied

The article URL has been copied to your clipboard.